Pada tulisan kali ini saya akan membahas tentang salah satu factor
yang dapat menyebabkan terjadinya perpecahan pada suatu bangsa, yaitu
fanatisme. Menurut KBBI, fanatisme berarti keyakinan (kepercayaan) yang terlalu
kuat terhadap ajaran (politik, agama, dan sebagainya).
Tanpa disadari sifat fanatik bisa dibilang selalu tumbuh pada diri
setiap orang, bahkan pada orang yang merasa paling netral sekalipun. Sifat ini
biasanya muncul karena tumbuh suatu kepercayaan, dan kekaguman yang berlebihan
pada sesuatu.
Memang tidak salah, jika seseorang, meyakini dan kagum kepada suatu
ajaran, public figure, grup band, tim sepak bola, game, anime, komunitas, hingga cabang ilmu tertentu. Akan
tetapi terkadang sifat-sifat yang berlebihan ternyata dapat menyebabkan
perpecahan antar saudara sebangsa setanah air sendiri. Bisa dilihat contoh
nyatanya di kolom komentar di suatu akun media sosial.
Seperti misalnya suatu akun info seputar sepak bola memposting kabar
kemenangan telak tim A ketika melawan tim lain. Tiba-tiba dikolom komentar ada
penggemar tim B yang konon merupakan musuh bebuyutan tim A komen “halah lawan
tim bobrok aja bangga, kayak tim B dong lawan tim juara bertahan bisa menang
tanpa kebobolan”. Sontak para pendukung tim A pasti akan membalas komentar
penggemar tim B tersebut juga dengan nada yang tidak enak, hingga akhirnya
besar kemungkinan akan semakin banyak penggemar baik dari tim A maupun tim B
yang terlibat silang pendapat yang sengit sehingga dapat menimbulkan rasa
kebencian karena masing-masing pihak merasa tidak rela timnya diolok-olok.
Hal-hal seperti ini masih sering kita temukan di kolom komentar
akun-akun gossip, berita, dan infotainment di media sosial. Orang-orang semacam
tersebut biasa menganggap fanatisme yang berlebihan tersebut sebagai suatu
tindakan heroic untuk menjaga nama baik apa yang diyakininya dan merupakan
tindakan yang normal. Padahal tanpa mereka sadari hal tersebut hanya akan menggoyahkan
persatuan dan kesatuan yang telah lama para pahlawan kita pupukkan ke hati dan
jatidiri rakyat bangsa kita.
Lebih baik kita saling memahami antar sesama jika selera dan
pandangan setiap orang itu berbeda-beda. Membiasakan sifat lapang dada dan
apresiasi yang tinggi juga diperlukan untuk mencegah agar sifat fanatic yang
kita miliki tidak perlu terlontarkan menjadi kata-kata yang dapat mendorong
terjadinya perpecahan bangsa.
Boleh saja membela jika hal yang kita yakini dan kagumi dicela,
namun usahakan tetap memperhatikan tata krama kita. Kita tidak perlu
memperpanjang suatu masalah yang ditimbulkan dari orang-orang yang senang
melakukan hate speech dan memiliki kualitas akhlak yang buruk. Anggap saja
segala yang mereka katakan sebagai kritikan atau jika sifatnya merupakan celakan maka anggap saja sebagai
omong kosong yang hanya akan berlalu seperti angin, karena biasanya orang-orang
semacam ini tidak akan bisa dinasehati bahkan dengan ayat-ayat suci pun mereka
akan menolak untuk memperbaiki diri mereka.
Jadi boleh saja kita memiliki sifat fanatik terhadap sesuatu, namun
pastikan kita tetap bijaksana dalam bertutur kata dengan orang lain yang beda
haluan dengan kita, baik di kehidupan nyata maupun di media sosial.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar