Selasa, 15 Januari 2019

FANATISME BERLEBIHAN MENDORONG PERPECAHAN BANGSA



Pada tulisan kali ini saya akan membahas tentang salah satu factor yang dapat menyebabkan terjadinya perpecahan pada suatu bangsa, yaitu fanatisme. Menurut KBBI, fanatisme berarti keyakinan (kepercayaan) yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama, dan sebagainya).
Tanpa disadari sifat fanatik bisa dibilang selalu tumbuh pada diri setiap orang, bahkan pada orang yang merasa paling netral sekalipun. Sifat ini biasanya muncul karena tumbuh suatu kepercayaan, dan kekaguman yang berlebihan pada sesuatu.
Memang tidak salah, jika seseorang, meyakini dan kagum kepada suatu ajaran, public figure, grup band, tim sepak bola, game, anime,  komunitas, hingga cabang ilmu tertentu. Akan tetapi terkadang sifat-sifat yang berlebihan ternyata dapat menyebabkan perpecahan antar saudara sebangsa setanah air sendiri. Bisa dilihat contoh nyatanya di kolom komentar di suatu akun media sosial.
Seperti misalnya suatu akun info seputar sepak bola memposting kabar kemenangan telak tim A ketika melawan tim lain. Tiba-tiba dikolom komentar ada penggemar tim B yang konon merupakan musuh bebuyutan tim A komen “halah lawan tim bobrok aja bangga, kayak tim B dong lawan tim juara bertahan bisa menang tanpa kebobolan”. Sontak para pendukung tim A pasti akan membalas komentar penggemar tim B tersebut juga dengan nada yang tidak enak, hingga akhirnya besar kemungkinan akan semakin banyak penggemar baik dari tim A maupun tim B yang terlibat silang pendapat yang sengit sehingga dapat menimbulkan rasa kebencian karena masing-masing pihak merasa tidak rela timnya diolok-olok.
Hal-hal seperti ini masih sering kita temukan di kolom komentar akun-akun gossip, berita, dan infotainment di media sosial. Orang-orang semacam tersebut biasa menganggap fanatisme yang berlebihan tersebut sebagai suatu tindakan heroic untuk menjaga nama baik apa yang diyakininya dan merupakan tindakan yang normal. Padahal tanpa mereka sadari hal tersebut hanya akan menggoyahkan persatuan dan kesatuan yang telah lama para pahlawan kita pupukkan ke hati dan jatidiri rakyat bangsa kita.
Lebih baik kita saling memahami antar sesama jika selera dan pandangan setiap orang itu berbeda-beda. Membiasakan sifat lapang dada dan apresiasi yang tinggi juga diperlukan untuk mencegah agar sifat fanatic yang kita miliki tidak perlu terlontarkan menjadi kata-kata yang dapat mendorong terjadinya perpecahan bangsa.
Boleh saja membela jika hal yang kita yakini dan kagumi dicela, namun usahakan tetap memperhatikan tata krama kita. Kita tidak perlu memperpanjang suatu masalah yang ditimbulkan dari orang-orang yang senang melakukan hate speech dan memiliki kualitas akhlak yang buruk. Anggap saja segala yang mereka katakan sebagai kritikan atau jika sifatnya  merupakan celakan maka anggap saja sebagai omong kosong yang hanya akan berlalu seperti angin, karena biasanya orang-orang semacam ini tidak akan bisa dinasehati bahkan dengan ayat-ayat suci pun mereka akan menolak untuk memperbaiki diri mereka.
Jadi boleh saja kita memiliki sifat fanatik terhadap sesuatu, namun pastikan kita tetap bijaksana dalam bertutur kata dengan orang lain yang beda haluan dengan kita, baik di kehidupan nyata maupun di media sosial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar