Selasa, 15 Januari 2019

PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL DI USIA DINI




Hai para pembaca, kembali lagi di blog saya, pertama-tama saya ingin bertanya apakah dari pembaca sekalian ada yang bisa hidup barang seminggu saja tanpa menggunakan media sosial? Sebagian besar dari kalian pasti sudah menggunakan minimal salah satu aplikasi penyedia layanan media. Media sosial pada zaman sekarang ini ada banyak macamnya dan masing-masing memiliki keunikannya sendiri, seperti Instagram, Twitter, Facebook, VK, LINE, Whattsapp, Snapchat, WeChat, Kakaotalk, Path, BBM, dan masih banyak lagi.
Media Sosial memang seolah tidak dapat terlepas dari kehidupan kita. Selain berguna untuk menjalin hubungan dengan orang lain atau barangkali sebagai hiburan, media sosial juga banyak digunakan sebagai media untuk menuliskan cerita-cerita baik yang bersifat fakta maupun fiktif, media dagang online, promosi pariwisata, berita online, dan masih banyak lagi. Maka tidak heran media sosial digunakan oleh mayoritas penduduk dunia saat ini, karena dianggap sebagai media praktis untuk memenuhi beragam kebutuhan.
Akan tetapi tidak semua konten yang di-post di media sosial itu berisikan hal-hal positif. Walaupun para penyedia layanan media sosial aktif secara rutin menghilangkan konten-konten yang negatif, namun faktanya konten negatif di media sosial masih terus menjamur. Hal yang ditakutkan adalah jika ada anak-anak yang baik sengaja maupun tidak sengaja membaca konten-konten negatif tersebut.
Seperti kita ketahui bahwa anak-anak adalah fase pertumbuhan dimana perasaan ingin tahu begitu tinggi serta fase dimana mereka mudah untuk dipengaruhi. Mereka belum dapat secara elektif menyeleksi mana hal yang baik dan mana yang benar. Itu semua karena anak kecil cenderung merupakan makhluk yang polos, sehingga mereka akan tumbuh berdasarkan hal-hal yang mereka peroleh sebelumnya. Itulah mengapa anak kecil harus diajari tentang hal-hal yang baik dan hal-hal yang buruk.
Hal diatas sudah cukup menjelaskan alasan mengapa anak kecil lebih baik kita hindarkan terlebih dahulu dari media sosial, meski banyak konten di media sosial yang termasuk kategori for children. Mereka cenderung masih labil serta cenderung meluapkan segala perasaan dan pikirannya pada akun media sosial mereka tanpa mereka mengetahui apakah yang mereka tulis tersebut baik atau buruk, mengganggu pengguna lain atau tidak, serta melanggar privacy & policy medsos tersebut atau tidak. Sehingga tidak jarang postingan tersebut akan direspon secara negatif oleh para netizen, bahkan yang palin memprihatinkan adalah jika para pengguna dewasa sampai melakukan cyber-bullying.
Tidak hanya itu, hal-hal yang mereka amati atau peroleh dari media sosial itu sendiri dapat mengubah perilaku mereka di kehidupan nyata. Mereka bahkan tidak akan ragu-ragu melakukan dan mengatakan hal-hal yang ada di medsos, sekali lagi tanpa memikirkan dampak buruknya. Serta kebanyakan dari mereka akan membela mati-matian konten-konten yang mereka sukai atau bisa dibilang anak kecil justru cenderung memiliki sifat fanatisme yang lebih besar daripada orang dewasa normal. Sehingga jika ada yang menghina konten yang mereka sukai tersebut maka mereka akan cenderung balik menghina, sehingga tidak pelak lama kelamaan akan terjadi perang medsos yang lucunya para pelakunya masih anak-anak kecil, bahkan ini yang membuat saya yakin bahwa jika tawuran antar pelajar terjadi karena sifat fanatisme berlebih terhadap sekolah mereka masing-masing.
Hal-hal tersebutlah yang harus diperhatikan oleh orang tua-orang tua zaman sekarang. Lebih baik memberikan mereka pendidikan yang cukup terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk membelikan anak-anak mereka gadget pribadi, karena jujur saja pengguna media sosial dibawah umur saat ini sangat banyak jumlahnya. Prioritaskanlah pertumbuhan sehat mereka tanpa terpengaruh konten-konten yang dapat merusak pola perilaku dan tata bahasa mereka, karena bisa jadi hal tersebut akan menempel terus hingga mereka dewasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar