Hai para
pembaca, kembali lagi di blog saya, pertama-tama saya ingin bertanya apakah
dari pembaca sekalian ada yang bisa hidup barang seminggu saja tanpa
menggunakan media sosial? Sebagian besar dari kalian pasti sudah menggunakan
minimal salah satu aplikasi penyedia layanan media. Media sosial pada zaman
sekarang ini ada banyak macamnya dan masing-masing memiliki keunikannya
sendiri, seperti Instagram, Twitter, Facebook, VK, LINE, Whattsapp, Snapchat,
WeChat, Kakaotalk, Path, BBM, dan masih banyak lagi.
Media Sosial
memang seolah tidak dapat terlepas dari kehidupan kita. Selain berguna untuk
menjalin hubungan dengan orang lain atau barangkali sebagai hiburan, media
sosial juga banyak digunakan sebagai media untuk menuliskan cerita-cerita baik
yang bersifat fakta maupun fiktif, media dagang online, promosi pariwisata,
berita online, dan masih banyak lagi. Maka tidak heran media sosial digunakan
oleh mayoritas penduduk dunia saat ini, karena dianggap sebagai media praktis
untuk memenuhi beragam kebutuhan.
Akan tetapi
tidak semua konten yang di-post di media sosial itu berisikan hal-hal positif.
Walaupun para penyedia layanan media sosial aktif secara rutin menghilangkan
konten-konten yang negatif, namun faktanya konten negatif di media sosial masih
terus menjamur. Hal yang ditakutkan adalah jika ada anak-anak yang baik sengaja
maupun tidak sengaja membaca konten-konten negatif tersebut.
Seperti kita
ketahui bahwa anak-anak adalah fase pertumbuhan dimana perasaan ingin tahu
begitu tinggi serta fase dimana mereka mudah untuk dipengaruhi. Mereka belum
dapat secara elektif
menyeleksi mana hal yang baik dan mana yang benar. Itu semua karena anak kecil
cenderung merupakan makhluk yang polos, sehingga mereka akan tumbuh berdasarkan
hal-hal yang mereka peroleh sebelumnya. Itulah mengapa anak kecil harus diajari
tentang hal-hal yang baik dan hal-hal yang buruk.
Hal diatas
sudah cukup menjelaskan alasan mengapa anak kecil lebih baik kita hindarkan
terlebih dahulu dari media sosial, meski banyak konten di media sosial yang termasuk
kategori for children. Mereka cenderung masih labil serta cenderung meluapkan
segala perasaan dan pikirannya pada akun media sosial mereka tanpa mereka
mengetahui apakah yang mereka tulis tersebut baik atau buruk, mengganggu
pengguna lain atau tidak, serta melanggar privacy & policy medsos tersebut
atau tidak. Sehingga tidak jarang postingan tersebut akan direspon secara
negatif oleh para netizen, bahkan yang palin memprihatinkan adalah jika para
pengguna dewasa sampai melakukan cyber-bullying.
Tidak hanya
itu, hal-hal yang mereka amati atau peroleh dari media sosial itu sendiri dapat
mengubah perilaku mereka di kehidupan nyata. Mereka bahkan tidak akan ragu-ragu
melakukan dan mengatakan hal-hal yang ada di medsos, sekali lagi tanpa
memikirkan dampak buruknya. Serta kebanyakan dari mereka akan membela
mati-matian konten-konten yang mereka sukai atau bisa dibilang anak kecil
justru cenderung memiliki sifat fanatisme yang lebih besar daripada orang
dewasa normal. Sehingga jika ada yang menghina konten yang mereka sukai
tersebut maka mereka akan cenderung balik menghina, sehingga tidak pelak lama
kelamaan akan terjadi perang medsos yang lucunya para pelakunya masih anak-anak
kecil, bahkan ini yang membuat saya yakin bahwa jika tawuran antar pelajar terjadi
karena sifat fanatisme berlebih terhadap sekolah mereka masing-masing.
Hal-hal
tersebutlah yang harus diperhatikan oleh orang tua-orang tua zaman sekarang.
Lebih baik memberikan mereka pendidikan yang cukup terlebih dahulu sebelum
memutuskan untuk membelikan anak-anak mereka gadget pribadi, karena jujur saja
pengguna media sosial dibawah umur saat ini sangat banyak jumlahnya.
Prioritaskanlah pertumbuhan sehat mereka tanpa terpengaruh konten-konten yang
dapat merusak pola perilaku dan tata bahasa mereka, karena bisa jadi hal
tersebut akan menempel terus hingga mereka dewasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar